Rabu, 19 Agustus 2015

BERMEGAH – MEGAHAN MEMBUAT MANUSIA CELAKA ( QS : 102 : 1 )

BERMEGAH – MEGAHAN  MEMBUAT  MANUSIA  CELAKA ( QS : 102 : 1  )

Allah swt berfirman di dalam QS At Takatsur ayat 1 – 2 yang berbunyi sebagai berikut

Al haa kumut takatsur. ( QS 102 : 1  )  yang artinya

Bermegah – megahan telah melalaikan kamu 

Surat At Takatsur ini turun, karena ada peristiwa dua kabilah dari orang Anshar yaitu Bani Haaritsah dan bani Harsh. Mereka saling membanggakan kabilahnya masing-masing . 

Salah satu dari kabilah tersebut berkata, “Adakah di kalangan kamu orang besar seperti SI FULAN ? “ Dan yang satunya lagi menjawab, seperti itu juga. Padahal yang ditanyakan itu orangnya masih hidup semuanya. 

Kemudian mereka pergi bersama ke kuburan, salah satu dari mereka bertanya pula , “ dakah di antara kamu orang besar seperti itu sambil menunjuk kepada satu kuburan ? “ Dan yang satunya lagi menjawab seperti pertanyaan tersebut sambil ia menunjuk ke satu kuburan yang lainnya. Lalu turunlah surat At Takatsur ini. 

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah ra .

Melalaui ayat 1 ini Allah swt mengungkapkan bahwa kebanyakan mereka sibuk bermegah-megahan dengan hartanya, teman-temannya, para pengikutnya, jabatannya, gelarnya, pekerjaannya atau turunannya. 

Atau istilah Jawa itu Terah ( garis keturunan ) apakah itu raja, pangeran, sultan, elang, raden, ketut, tubagus , habib, kyai atau gelarnya Drs DR, Dra, Ir, Profesor, MA, S1, S2 dan sejenisnya . 

Saking sibuknya sampai lalai dalam beramal untuk dirinya sendiri. Mereka asyik dengan apa yang dimilikinya, merasa bangga dengan semuanya itu, sambil bercerita ke sono kemari yang arahnya gak jelas . 

Mereka gak pernah berfikir untuk berbuat amal sedikitpun terhadap sesamanya. Dan bergaulpun mereka pilih-pilih. Bila yang gak sederjat atau selevel, mereka gak mau campur. Sungguh mereka telah terpedaya oleh semuanya itu.

Pada suatu hari ayahnya Muttariff berkunjung menghadap Nabi saw dan saat itu beliau sedang membaca surat Al ha kumut takatsur, kemudian beliau bersabda, 

“ Anak Adam berkata, “ Inilah harta saya, inilah harta saya “ lalu nabi saw bersabda, “ Wahai anak Adam ! Engkau tidak memiliki hartamu, kecuali apa yang telah engkau makan dan yang telah engkau habiskan, atau pakaian yang sedang engkau pakai hingga lapuk atau yang telah kamu sedekahkan sampai habis “. ( HR Muslim )

Dan dalam diwayat lain beliau bersabda, 

“ Seandainya anak Adam memiliki satu lembah harta, sungguh ia memiliki dua lembah harta dan seandainya ia memiliki dua lembah harta, sungguh ia memiliki tiga lembah harta dan tidak memenuhi perut manusia ( tidak merasa puas ) kecuali perutnya diisi dengan tanah dan Allah akan menerima tobat ( member ampunan ) kepada orang-orang yang bertobat “ 

( HR Ahmad, Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari Anas ra )

Dari ayat dan kedua hadits tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar manusia itu merasa bangga dengan apa yang telah diraihnya, apakah itu mengenai hartanya, gelarnya, tahtanya, atau wanitanya ( yang cantik rupawan ) dan yang lelaki ( yang cakep dan ganteng ). 

Mereka asyik sekali membicarakan apa yang mereka sukai tersebut. Semakin mereka memiliki sesuatu semakin nampak kekurangannya akhirnya mereka semakin sibuk dengan segala urusan dunianya. 

Karena kesibukan tersebut maka tidak ada waktu sama sekali untuk mengabdikan dirinya kepada Tuhannya yang telah memberikan segalanya. 

Saking sibuknya mereka lupa dengan tetangga sekitarnya yang kehidupannya jauh lebih susah dan lebih menderita dari mereka. Kalau mereka sibuk untuk menambah apa yg telah dimiliki, sedangkan orang lain sibuk untuk mencari sesuap nasi hanya untuk mengganjal perutnya agar jangan sampai kosong sama sekali . Orang-orang yang demikian inilah yang disebutnya orang lalai.

Dan kepada mereka semua itu Allah pun memberikan peringatan dengan gaya bahasanya yang amat halus, lembut, sopan terhadap mereka yang sibuk dengan urusan dunianya sampai melalaikan kebutuhan akhiratnya yaitu di dalam QS Al Hadid ayat 20  yang artinya berbunyi sebagai berikut :

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu . ( QS 57 : 20 )

Melalui ayat ini dijelaskan bahwa dunia ini hanya permainan, dunia ini bisa melalikan siapapun , maksudnya bisa melupakan segalanya, bisa menjadikan pertengkaran, permusuhan, fitnah, penuh tipu daya, zalim terhadap sesama atau bisa juga menjadi bangga, sombong, ego, memandang rendah atau hina orang lain dan sejenisnya. Dunia ini hanyalah kesenangan yang palsu, yang menipu, yang menyesatkan .

Lalu kita harus bagaimana, karena kita kan hidupnya di dunia ? Kita butuh makan, minum, pakaian, tempat tinggal dsb. 

Jawaban itu memang benar, tapi maksud ayat itu menggambarkan tentang isinya dunia itu ya seperti itu. 

Jadi karena kita butuh dunia, maka kita harus berhati-hati, jangan sampai terperosok, terjerumus ke dalam permainan dunia. 

Yang baik itu dunia yang harus tunduk, patuh, taat kepada kita , dunia harus dikuasai oleh kita, lalu baru kita gunakan untuk menambah amal kebajikan sebagai ibadah sebagai tanaman yang harus kita tanam, dimana hasilnya baru bisa kita nikmati kelak di akhirat.

Bila kita tidak bisa berbuat seperti itu maka akan celaka di dunia, disiksa di dunia dan diazab di akhirat.


Semoga saja uraian ini bermanfaat buat kita semua dan semoga saja kita semua bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur untuk mensyukuri segala nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita semua. 

Aaaaamiin Yaa Rabbal’aalamiin .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar