Sabtu, 11 Maret 2017

BELAJAR HIDUP DARI KEMATIAN .



SETIAP YANG BERNYAWA PASTI MATI.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung.
kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali Imran (3) : 185)
Berkali-kali Allah menekankan masalah ini. Terutama ayat-ayat Makiyah.
Sebelum menekankan akhir dari kehidupan pertama manusia, yaitu masalah ajal.
Karena dengan menekankan masalah ajal, kita selalu ingat terhadap titik akhir dan titik nadir kemana kita bergerak, meniti jejak, dan berjalan.Apa yang paling menggoda dan membuat terlena, tergoda dan tertipu.
Salah satunya, karena ajal tidak diketahui. Akhir kehidupan tidak pernah didefinisikan secara detail sebelumnya. Nikmat kesesaatan, nikmat kemudahan, seringkali membuat orang tidak menyadari hidup kelak akan berakhir.
Al-Quran berkali-kali memberikan setressing tentang masalah ajal. Memberikan titik tekan masalah kematian.
Sesungguhnya yang di inginkan oleh Al-Quran, juga Rasulullah Saw. ialah agar saat kita menyadari titik terakhir ke mana kita menuju dan kembali. Atau menyadari visi dan misi kehidupan.
Sesungguhnya keimanan bermula dari titik kesadaran akan kesementaraan hidup. Karakteristik dunia yang fluktuatif dan pasang surut. Bermula dari yang disebut Ibnu Qoyyim. Saat di mana jiwa kita terhenyak oleh realitas kehidupan kedua setelah dunia.Maka bagian yang paling menggugah dan menyentuh keimanan, kesadaran yang kuat tentang waktu.
Waktu diberikan oleh Allah dalam tiga lapisan :
Lapisan pertama, individu waktu yang diberikan setiap manusia yang kita sebut dengan umur.
Lapisan kedua, umur masyarakat.
Setiap hubungan masyarakat memiliki umur tertentu. Ada saat-saat kematiannya.
Allah mengatakan :
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 34).
Dengan kata lain, tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan.
Rasul mengatakan :
“Manusia itu memiliki usia tertentu. Dan usia (kurun) umatku hanya seratus tahun (satu abad).”
Dalam al-Quran Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran : 110).
Ternyata, itu bukan sebuah pernyataan yang konstan, yang tetap berlaku sepanjang masa. Umar bin Khaththab menyatakan tentang ayat itu, maka penuhilah syarat-syarat Allah tentang kriteria umat.
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun (seabad) seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.” (Hadits Riwayatkan Al-Imam Abu Dawud)
3. Lapisan ketiga, sejarah
Waktu yang dimulai sejak Allah menciptakan Adam. Dan akan berakhir ketika Allah menghancurkan bumi dengan peristiwa kiamat :
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman (55) : 26-27)
Seperti itu waktu berlapis-lapis. Paling kecil dari waktu ialah individu. Menjadi ruang lingkup pertanggung jawaban kita masing-masing.
Kesadaran tentang waktu, ternyata banyak tidak disadari oleh umat manusia. Bukan hanya oleh umat muslim, tetapi oleh seluruh umat manusia. Masalahnya, apa yang bisa membuat kita mampu dari setiap detik yang berlaku?
Setiap waktu yang kita lalui sama dengan gambaran berikut ini. Ibarat sebuah pohon, maka pohon kehidupan kita setiap hari daun-daunnya akan layu dan berguguran.
Itulah sebabnya Rasulullah menasihati kita: “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang akan memutus kenikmatan dunia. Biasakanlah untuk hidup tetap kasar. Hidup bersahaja. Kenikmatan itu selalu ada.”
Bahkan beliau menyuruh kita untuk ziarah kubur, agar ingatan kita tentang kesementaraan hidup di dunia dan kekekalan kehidupan hari esok (akhirat) lebih kuat mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita merasa, dan cara kita berperilaku.
SEMOGA BERMANFAAT DAN BERKAH. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU

HIKMAH dibalik kisah ini adalah 

1. Barangsiapa manusia yang hanya mementingkan atau lebih berat dengan urusan dunianya , menyepelekan urusan akhiratnya, maka akan celaka. Dunianya diberi oleh Allah, namun akhiratnya tidak sama sekali ;
2. Barangsiapa yang lebih mementingkan urusan akhiratnya daripada urusan dunianya, maka akan menjadi orang yang beruntung, karena urusan akhiratnya diperhatikan oleh Allah dan juga urusan dunianya ;
3. Manusia setelah meninggal dunia akan dimintai pertanggung jawaban tentang empat hal sebagaimana awal Penciptaannya yaitu tentang umurnya, jasadnya, hartanya dan ilmunya .
4. Allah melarang malaikat penjaga kubur ( Munkar dan Nakir ) bertanya pada 6 golongan manusia, langsung saja akan terkena azb dan siksa kubur yaitu 

4.1  Orang yang mempersekutukan Allah  ;
4.2  Orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya  ;
4.3  Orang yang gemar meminum Khamer ( arak yang memabukkan )  ;
4.4  Orang yang memakan harta benda anak yatim  ;
5.5.  Orang yang bebrbuat zina  ;
5.6  Orang yang menjalani riba  .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar