Selasa, 23 Januari 2018

MENIPU ALLAH

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.




Wahai saudaraku di dunia ini masih banyak manusia yang mengaku beragama Islam, namun Islamnya hanya KTP doang.  

Syahadat dibaca hanya saat mau nikah saja, sholat kagak pernah, zakat gak pernah karena untuk sendiri saja masih  kurang, puasa gak pernah karena kalau puasa sakit maagh nya kambuh. Al Qur’an punya tapi disimpan saja sampai berdebu dll.

Adalagi orang merasa bangga karena segala macam ibadah banyak yang sudah dijalankan, akhirnya merasa yakin bahwa dirinya akan masuh surga, karena banyak orang yang belajar agama darinya, punya santri banyak, punya jama’ahnya banyak.

Adalagi orang yang merasa bangga karena dirinya masih ada garis keturunan dari  Rasulullah saw. Padahal Rasulullah saw sendiri  telah berkata kepada keturunannya “ Janganlah kalian merasa bangga karena kalian masih keluarga dan keturunan dari aku, itu tidak ada manfaatnya sama sekali, Karena yang bisa menyematkan kalian kelak di akhirat bukan karena keturunan aku , akan tetapi dari amal perbuatan kalian sendiri “ .

Kesimpulannya banyak manusia  dengan perbuatannya tersebut telah berbuat baik dan bertakwa kepada Allah. 

Padahal sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya . Inilah perbuatan yang telah menipu Allah . Dengan menipu Allah sama sajatelah menipu dirinya sendiri.

Untuk lebih jelasnya marilah kita ikuti dialog antara seorang HAMBA yang hidupnya selalu dalam keraguan dan memiliki segudang pertanyaan untuk dijawab, dengan seorang SYEKH yang selalu menjawab semua pertanyaannya dengan sabar sampai dia hilang dari rasa ragunya.

Syekh   :  Wahai  sobat di dunia ini ada perbuatan yang menurut dia itu benar, tapi sebenarnya menipu Allah

Hamba :   Ah masa sih  , kan menurut yang dia lakukan itu sudah benar . Lalu bagaimanakah bisa hal itu dikatakan menipu .

Syekh   :  Dah sekarang begini coba kamu buka Al Qur’an terjemahnya dan lihat surat Al Baqarah ayat 216 supaya kamu yakin dulu dari apa yang saya sampaikan

Hamba :   Allah swt berfirman yang artinya , “ ……  Boleh jadi kamu membenci sesuatu  , padahal ia amat baik bagimu  , dan boleh jadi ( pula ) kamu menyukai sesuatu , padahal ia amat buruk bagimu “  QS 2 : 216

Syekh   : Nah dari ayat tersebut ada enam hal yang dilakukan oleh manusia yang menurutnya itu baik, padahal sebenarnya buruk baginya.  Artinya dia telah menipu Allah tapi sesungguhnya menipu dirinya sendiri.

Hamba :   Astaghfirullah, masa sih begitu syekh. Tolong jelaskan yang enam hal tersebut !
Syekh   :   Baiklah saya jelaskan yang enam hal tersebut yaitu

1.Manusia senang berbuat dosa , taka da rasa sesal sedikitpun, karena merasa nantinya kalau sudah tua meminta ampun kepada Allah, maka akan diampuninya ;

2. Manusia merasa dirinya telah dekat dengan Allah swt. Karena dia telah berpendapat begitu maka dia tidak ada usaha untuk beribadah dan taat kepada Allah . iBadahnya dilakukan hanya sekedar menunaikan kewajiban saja. Ibadahnya tidak dilakukan dengan sungguh – sungguh   ;

3. Semua manusia menantikan kenikmatan surga , akan tetapi yang ditanam adalah benih – benih neraka  ;

4. Selalu mencari tempat-tempat orang yang taat ( yaitu surga ) , akan tetapi yang dibawa adalah berbagai macam bentuk kemaksiatan dari yang samar sampai yang nampak  ;

5.  Mengaku sangat mencintai Rasulullah saw , akan tetapi akhlaknya sangat buruk sekali , sunnah- sunnah beilau tidak pernah dikerjakannya.

6. Mengharapkan rahmat Allah akan tetapi segala perbuatannya selalu melampaui batas .

Hamba  :  Maaf yang nomor 6 itu mohon dijelaskan lagi yang lebih jelas.

Syekh    :  Manusia  dengan memperbanyak dzikir dan shalat di malam hari sampai banyak mengurangi waktu tidur, sehingga siang harinya saat bekerja menjadi lemah dan ngantuk, lalu timbul malas. 

Ada lagi dengan gaya berpakaian  , memakai gamis , sorban, berjenggot , di keningnya nampak tanda hitam,  agar terlihat sebagai ahli sujud , kemanapun dia pergi selalu tangannya memegang tasbih. Seolah-olah dia ahli dzikir dan orang yang berilmu atau orang alim . 

Namun hal ini juga bukan berarti buruk, tapi lihat sikap dan prilakunya dialam keseharaiannya, nanti kamu bisa tahu dari situ .

Hamba  :  Oh begitu , terima kasih syekh


Syekh    :  Sama – sama 

Semoga kita semua tetap menjadi orang yang tawadhu dan qana'ah sehingga bisa menghilangkan sifat sombong dan takabur, tidak berbangga diri dengan amal perbuatan kita tersebut. Dan kita tetap istiqamah menjalankan semua ibadah kita hanya mengharapkan rido Allah semata. Insya Allah. Aaaaamiin.

Wallaahua'alam bish shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar