Senin, 21 Mei 2018

KEDENGKIAN DIBALAS DENGAN KEBAIKAN .


Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Wahai saudaraku ada lagi yaitu rasa Dengki dibalas kebaikan.  Sekuat tenaga seorang Muslim mengikis habis rasa dengki dalam jiwanya. 

Senyum terbuka dan mengucapkan “Selamat” dengan tulus kepada saudara muslim lainnya.

Puncaknya ia mendoakan dan menceritakan kebaikan-kebaikan meski dahulu pernah membenci dirinya. 

Subhanallah, inilah derajat tertinggi akhlak seorang Muslim. Ia bahagia ketika muslim lainnya bahagia. 

Ia merasa senang dan bahagia dengan sangat tulus ketika saudara sesama muslim mendapatkan kenikmatan dan mencapai puncak kesuksesan yang luar biasa. Tidak ada rasa sedikitpun tersaingi.

Rasulullah saw melalui hadits 
yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra
menjelaskan sebagai beriku.

 عَنْابْنِمَسْعُودٍرَضِيَاللَّهُعَنْهُقَالَسَمِعْتُالنَّبِيَّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَقُولُلَاحَسَدَإِلَّافِياثْنَتَيْنِرَجُلٍآتَاهُاللَّهُمَالًافَسَلَّطَهُعَلَىهَلَكَتِهِفِيالْحَقِّوَرَجُلٍآتَاهُاللَّهُحِكْمَةًفَهُوَيَقْضِيبِهَاوَيُعَلِّمُهَا


Dari Ibnu Mas’ud ra berkata; Aku mendengar Nabi SAW  bersabda:
“Tidak boleh iri (dengki) kecuali kepada dua hal.
[1] Seseorang yang Allah berikan kepadanya harta lalu dia menguasainya dan membelanjakannya di jalan yang haq (benar) dan
[2] seorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu dia melaksanakannya dan mengajarkannya (kepada orang lain) “.

HR. Bukhari. 1320

Dalam hadits ini boleh seorang muslim boleh iri tapi hanya kepada dua hal


1. Harta yang dibelanjakan. Iri kepada orang lain yang mampu beramal dengan hartanya. 


Kekayaan yang ia miliki dijadikan untuk beramal sebanyak-banyaknya.  Iri disini adalah iri agar kita termotivasi mampu mengalahkan kebaikan orang lain dalam berbuat kebaikan menggunakan harta .

2. Ilmu yang diamalkan dan diajarkan. Merasa tersaingi dengan orang lian karena ilmu yang ia miliki. Ilmu yang diamalkan kemudian diajarkan. Subhanallah. 


Tidak hanya tahu untuk dirinya tapi juga mengajarkannya kepada orang lain.

Kajian Hadits ini menguatkan hadits yang cukup populer yang diriwayatkan dari
sahabat Anas bin Malik

 لَايُؤْمِنُأَحَدُكُمْحَتَّىيُحِبَّلِأَخِيهِمَايُحِبُّلِنَفْسِهِ


“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya
 sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. 

HR. Bukhari. 12

Terasa berat memang untuk mengikuti apa yang Nabi saw sampaikan untuk mencintai

sesama muslim. Mencintainya persis seperti mencintai dirinya.

Semoga uraian ini  bermanfaat untuk kita semua. Insya Allah . Aaaaamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar